USAHA
YANG BERBUAH HASIL
Karya Nabila Rizqi Auliya
Pagi ini hujan turun dengan begitu
deras. Cuaca saat ini sangat dingin, hingga membuat seorang gadis yang tengah
menatap kosong ke arah jendela menggigil. Gadis berambut panjang itu menyeruput
teh panas secara perlahan, berniat untuk menghilangkan rasa dingin pada
tubuhnya yang berbalut sweater berwarna abu-abu itu.
Jari jemarinya dengan lincah
menari-nari di atas mackbook miliknya. Ia berniat untuk mencari artikel tentang
bencana alam. Ini adalah tugas individu yang sebenarnya dikumpulkan minggu
depan. Namun gadis itu cepat-cepat untuk meyelesaikannya. Karena baginya,
menunda pekerjaan adalah hal yang tidak baik.
Gadis dengan iris mata berwarna
cokelat itu bernama Lavenia Arshena. Namun ia lebih suka jika dipanggil dengan
nama Shena. Shena merupakan gadis dengan otak yang cukup cerdas, ia selalu
mendapatkan juara kelas di kelasnya. Gadis berusia enam belas tahun itu
bukanlah tipikal orang yang mudah bergaul. Oleh karena itu, ia hanya berteman
dengan teman sekelasnya saja, itupun juga tidak seluruhnya.
“Shena,” panggil seseorang yang
tengah berdiri di ambang pintu.
Shena mendongakkan kepalanya, dan
melihat seseorang yang memanggil namanya. “Iya? Ada apa?” tanya Shena dengan
suara pelan.
“Lo dipanggil tuh sama Pak Arjun di
ruang kepala sekolah,” ujar pemuda itu yang masih setia berdiri di ambang
pintu.
“Oke. Makasih ya, Than.” Shena
tersenyum manis kepada pemuda bernama Athan itu.
Setelah itu, Athan telah pergi dari
sana. Athan adalah teman sekelas Shena. Kalau guru-guru bilang sih, Athan itu
adalah Shena tapi versi laki-laki. Ya, Athan juga memiliki otak yang tak kalah
dari Shena. Dua tahun berturut-turut, Shena selalu berada di peringkat satu,
kemudian ada Athan yang meraih peringkat dua di kelas mereka.
Shena membereskan barang-barangnya,
ia memastikan tidak ada satupun barangnya yang tertinggal di sana. Ia beranjak
dan melangkahkan kedua kakinya keluar dari dalam perpustakaan dan menuju ke
ruang kepala sekolah yang letaknya lumayan jauh dari perpustakaan.
***
Sampailah Shena di depan ruangkepala
sekolah. Ia mengetuk pintu, setelah itu Pak Arjun selaku kepala sekolah SMA
Perdana Kusuma itu menyuruhnya masuk.
“Masuk Shena,” ujar Pak Arjun. “Ayo
silahkan duduk.”
Shena segera mendudukkan tubuhnya di
kursi kosong depan Pak Arjun. Perasaan Shena saat ini tengah kacau. Ia tidak
tahu tujuan Pak Arjun memanggilnya ke ruang kepala sekolah untuk apa. Tapi
batin Shena berbicara, bahwa sebentar lagi ada sesuatu yang tidak baik
menimpanya.
“Jadi, ada apa ya Bapak memanggil
saya?” tanya Shena.
“Sebentar ya, Shena. Tunggu dulu,
nanti biar saya jelaskan kepada kamu.”
Lima menit kemudaian, pintu terbuka.
Berdirilah seorang pemuda dengan seragam yang dikeluarkan, tidak memakai dasi,
dan … dua kancing baju atasnya terlepas.
“Di
sekolah sebagus ini, masih tetap ada juga cowok bengal kaya gini,” batin
Shena dalam hati.
Cowok itu menatap tidak suka ke arah
Shena. “Kenapa lo lihat-lihat? Nggak pernah lihat cowok ganteng, ya?”
Shena menegak salivanya susah payah.
Gadis itu gelagapan seperti maling yang tertangkap basah. Ia mendengus kesal.
Lalu membuang pandangannya ke sembarang arah, dan ia bersumpah tidak akan
menatap cowok bengal itu.
“Sudah … sudah. Ayo Daren, silahkan
duduk.” Pak Arjun mempersilahkan cowok yang dipanggil Daren itu untuk duduk di
kursi kosong samping Shena.
“Jadi … apa tujuan Bapak memanggil
saya untuk ke sini?” tanya Daren santai.
“Jadi gini, Daren. Mama kamu
menyuruh Bapak untuk mengubah sikap bengal kamu itu. Mama kamu juga ingin
membuat nilai kamu menjadi lebih bagus,” jelas Pak Arjun yang membuat Daren
terkejut.
“Terus saya harus bagaimana? Mohon
izin Bapak, saya tidak mau melakukan ini. Ini kehidupan saya, dan saya tidak
mau diatur-atur.” Daren berdiri, ia hendak berjalan keluar, namun ketika ia
mendengar perkataan Pak Arjun tubuhnya kembali duduk di kursi.
“Mama kamu bilang, kalau kamu nggak
mau, katanya semua aset kamu akan disita. Mulai dari motor kesayangan kamu,
kartu ATM, handphone, dan masih banyak lagi. Jadi bagaimana? Apa kamu rela
semuanya disita?” tanya Pak Arjun.
Daren mendengus kesal, “oke, saya
akan turutin semua apa kata Bapak.”
Pak Arjun mengangguk, “Shena, tugas
kamu di sini adalah untuk merubah segala sikap Daren dan membuat nilainya lebih
baik. Bagaimana, apakah kamu setuju?”
Shena melototkan kedua matanya,
“hah? Bapak nggak bohong kan sama saya? Pak, kenapa harus saya yang harus
mengurus dia?” tanya Shena seraya menunjuk ke arah Daren.
“Karena Bapak percaya sama kamu
Shena. Bapak percaya, dengan adanya kamu, Daren bisa berubah menjadi lebih baik
lagi.”
“Tapi Pak—“
“Sudah, Shena. Bapak tidak menerima
penolakan. Kalian bisa kembali ke kelas masing-masing.”
Shena dan Daren segera beranjak dari
duduknya dan berjalan keluar dari dalam ruang kepala sekolah.
“Gue nggak mau lo atur ini-itu. Ngerti?!” ancam Daren pada Shena.
“Sebenarnya aku juga nggak mau. Tapi
gimana lagi, ini amanah. Harus dijalani,” jawab Shena santai.
“Sekali gue bilang nggak, ya
enggak!” bentak Daren yang membuat Shena menegak salivanya susah payah.
“Ya udah kalau nggak mau. Yang rugi
kan kamu, bukan aku. Semua aset kamu bakal disita sama Mama kamu,” celetuk
Shena kemudian mempercepat langkah kakinya.
“Oke … oke, gue mau lo ajarin.
Asalkan lo bisa buat nilai gue nambah, biar semua aset gue nggak disita.
Ngerti?”
“Nambah atau enggaknya nilai kamu
itu, tergantung sama diri kamu sendiri.”
“Ya pokoknya gitu. Gue nggak mau
barang-barang kesayangan gue disita.” Shena hanya mengangguk.
“Jadi kapan kita bisa mulai belajar,
hm?” tanya Daren.
“Terserah,” jawab Shena singkat.
“Cewek mah suka gitu, kalau ditanya
selalu jawab terserah. Oke, kalau gitu nanti pulang sekolah lo bisa ke rumah
gue.”
“Nggak! Aku maunya di perpustakaan
sekolah aja,” tolak Shena.
“Ya udah kalau gitu. Ntar gue tunggu
ya, bocah,” ujar Daren.
“Bocah … bocah! Enak aja. Aku punya
nama tahu. Nama aku Lavenia Arshena, dan lebih suka dipanggil Shena.” Shena
mendengus kesal.
“Oke, Lavenia. Gue panggil lo Lav
aja gimana?” tanya Daren yang membuat Shena menatapnya tajam.
“Ternyata selain kamu pemaksa, kamu
orangnya nyebelin juga ya?”
“Yang nyebelin itu ngangenin,” kekeh
Daren.
Shena memutar bola matanya malas.
Padahal mereka baru saja ketemu, tapi entah mengapa keduanya seolah-olah sudah
mengenal lama.
“Aku ke kelas dulu kalau gitu,”
pamit Shena.
“Sip, jangan lupa nanti pulang
sekolah di perpustakaan.” Shena mengangguk pelan.
***
Di sinilah Shena dan Daren berada.
Di sebuah café yang terletak di Ibu Kota. Seharusnya mereka belajar di
perpustakaan, tapi karena kebetulan perpustakaan tutup lebih awal dan Shena
tidak mau ke rumah Daren, maka jalan satu-satunya adalah di sini.
“Gimana, paham?” tanya Shena setelah
menjelaskan beberapa materi kepada Daren.
Daren mengangguk, “Udah, gue ngerti
kok.”
“Gue kasih soal kalau gitu,”
“Eh, jangan–,” tolak Daren, “gue
udah capek ini. Udah satu setengah jam belajar trus. Nih otak udah ngebul,
Lav,” keluh Daren.
“Ya udah. Tapi besok gue tambahin
soalnya,” jelas Shena. Daren hanya mengangguk.
***
Pelajaran pertama di kelas Daren adalah
Matematika. Dan pagi ini ada ulangan mendadak, yang membuat seluruh murid
mengeluh.
Tapi di pojokan sana, Daren terlihat
tenang mengerjakan soal ulangan matematika yang berjumlah sepuluh butir, namun
beranak-pinak.
Setelah satu jam, akhirnya Daren keluar
dari kelas dengan senyum sumringah. Lalu ia melihat Shena sedang berada di
koridor, tengah berbincang dengan seseorang.
“LAV!” panggil Daren.
Shena menoleh. Lalu berjalan ke arah
Daren. Namun sebelum itu, Shena berpamitan dengan seseorang yang ia ajak
berbincang-bincang tadi.
“Apa?” tanya Shena setelah sampai di
hadapan Daren.
“Gue udah selesai ulangan, loh.
Orang pertama yang ngumpulin duluan,” ujar Daren.
Daren terkekeh pelan. Selama Daren
mengenal Shena, Shena tidak pernah marah sekalipun padanya. Shena selalu sabar
menghadapi sikapnya yang membuat orang kesal.
“Lav, nanti kalau gue udah sukses,
gue janji bakalan ingat terus sama lo. Suatu saat nanti, entah kapanpun itu,
dengan bangganya gue akan bilang ke semua orang, bahwa lo telah berhasil
membuat gue berubah. Gue akan tunjukkin kepada mereka yang selalu memandang gue
sebelah mata. Gue akan buktiin itu,” celetuk Daren panjang lebar.
Shena tertegun dengan ucapan Daren. Senyum
tipis tercetak di bibirnya. “Bagus kalau gitu. Aku senang akhirnya kamu bisa
berubah, Ren. Kamu berubah itu kemauan kamu sendiri, kalau aku hanya bantu kamu
saja. Dan … yang pasti, jangan cuma bisa bilang janji aja. Buktiin dong kalau
kamu pasti bisa. Semangat Daren!”
“Gue akan buktiin ke semua orang.
Dan gue akan buat Mama bangga sama gue. Makasih Lave, mungkin tanpa lo gue
masih tetap kaya Daren yang dulu. Daren yang bengal dan susah diatur.”
***
Setelah tiga bulan Daren belajar
bersama Shena. Selama itu juga Daren mulai berubah. Nilai-nilainya menjadi
lebih bagus, ia menjadi lebih displin dan bertanggung jawab. Tapi semua itu
bagi Dasren tidaklah mudah. Daren selalu berusaha untuk mengubah dirinya
sendiri. Karena Shena pernah berkata padanya, “Masa depan sudah menanti di
sana. Lupakanlah masa lalu, dan jadikanlah masa lalu sebagai pengalaman yang
paling baik.” Begitulah kata Shena dulu.
Karena Shena, Daren berubah. Karena
Shena juga, Daren mengerti apa arti kehidupan yang sebenarnya. Shena berhasil
mengubah Daren menjadi pribadi yang lebih baik. Dan Daren berterimakasih kepada
Shena. Daren berjanji, jika ia akan membalas semua kebaikan Shena. Kini Daren
telah merancang masa depannya nanti seperti apa. Padahal sebelumnya, Daren
tidak pernah berpikir semacam itu.
Shena sangat senang atas perubahan
Daren. Kerja kerasnya selama ini telah terbayarkan sudah. Daren menjadi pemuda
yang berwibawa dan bijaksana. Dan Shena tahu, Daren melewati masa sulitnya itu
tidaklah mudah. Itu semua membutuhkan perjuangan ekstra.
“Shen, makasih buat semuanya. Lo
udah berhasil membuat gue menjadi Daren yang berbeda,” ujar Daren.
“Kok nggak panggil Lav? Kenapa?
Tumben panggil Shena,” celetuk Shena asal.
“Oh iya, lupa. Lavenia bukan
Arshena. Lav bukan Shen,” Daren terkekeh pelan seraya menepuk pelan keningnya.
“Iya, terserah kamu. Aku senang deh,
akhirnya kamu bisa berubah. Nggak ada yang tidak mungkin di dunia ini, asalkan
kita mau berusaha dan bekerja keras. Dan yang pasti, usaha kamu membuahkan
hasil.”
“Makasih, Lav. Semua ini berkat lo.”
“Bukan karena aku, tapi karena kamu
sendiri. Soalnya kamu berusaha menjadi lebih baik lagi. Dan aku bangga sama
kamu,” ujar Shena seraya tersenyum.
“Makasih banyak Shen.”
Di dunia ini tidak ada yang tidak
mungkin. Kita harus berusaha untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan.
Percayalah, usaha tidak akan menghianati hasil.
-TAMAT-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar